
penembakan massal di Pantai Bondi, Sydney, pada hari Minggu, 14 Desember 2025,menyebabkan jumlah korban tewas yang di laporkan terus bertambah, dari laporan awal 10 orang hingga mencapai 16 orang, dengan puluhan lainnya terluka.
penembakan massal di Pantai Bondi, Sydney, pada hari Minggu, 14 Desember 2025,menyebabkan jumlah korban tewas yang di laporkan terus bertambah, dari laporan awal 10 orang hingga mencapai 16 orang, dengan puluhan lainnya terluka. Insiden ini dikonfirmasi sebagai serangan yang di targetkan pada komunitas Yahudi yang sedang merayakan Hanukkah.
Pantai Bondi, Sydney, yang selama ini di kenal sebagai ikon kegembiraan, kebersamaan keluarga, dan perayaan gaya hidup Australia. Seketika berubah menjadi saksi bisu horor yang mengguncang seluruh negeri. Pada petang yang seharusnya penuh suka cita, Minggu, 14 Desember 2025, sebuah aksi kekerasan brutal nan biadab meletus, merenggut nyawa belasan orang tak berdosa dan melukai puluhan lainnya.
Peristiwa yang kini di cap sebagai serangan teroris terburuk di Australia sejak tragedi Port Arthur tahun 1996 ini terjadi sekitar pukul 18.47 waktu setempat. Tepat di area dekat pantai tempat komunitas Yahudi setempat sedang berkumpul untuk merayakan hari pertama Hanukkah. Dua pria bersenjata tiba-tiba melepaskan tembakan membabi-buta, mengubah perayaan menjadi medan pembantaian yang kacau balau.
Laporan awal yang di terima kepolisian New South Wales (NSW) mengindikasikan adanya tembakan aktif, yang segera di respons dengan cepat oleh petugas. Namun, kengerian 10 menit pertama penembakan itu sudah meninggalkan luka yang sangat dalam. Saksi mata, Marcus, menggambarkan kekacauan yang terjadi. Saya pasti mendengar, saya tidak tahu, mungkin, sekitar 40, 50 tembakan, ujarnya, menggambarkan betapa paniknya ia harus meninggalkan semua barang demi menyelamatkan diri.
Dalam hitungan jam, jumlah korban yang tewas melonjak drastis, dari laporan awal 10 orang, menjadi 12, dan akhirnya di konfirmasi mencapai 16 orang meninggal dunia, termasuk anak-anak hingga lansia berusia 10 hingga 87 tahun. Selain itu, sekitar 40 orang lainnya terluka dan di larikan ke berbagai rumah sakit di wilayah Sydney. Insiden ini tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga merobek rasa aman yang selama ini di junjung tinggi oleh masyarakat Australia.
Identitas Pelaku dan Motif Kebencian
Penyelidikan intensif yang dilakukan oleh Kepolisian NSW segera mengarah pada identitas pelaku. Komisaris Polisi Mal Lanyon mengkonfirmasi bahwa insiden ini melibatkan dua pelaku, yang di identifikasi sebagai Sajid Akram (50 tahun) dan putranya, Naveed Akram (24 tahun). Serangan ini di simpulkan sebagai aksi anti-Semit yang di sengaja dan di targetkan terhadap komunitas Yahudi.
Penyelidikan mengungkapkan bahwa motif di balik kekejaman ini berakar pada kebencian dan ekstremisme, menjadikannya sebuah serangan teroris yang jelas. Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, dengan tegas mengecam aksi ini sebagai “tindakan antisemitisme jahat, terorisme yang menghantam jantung bangsa kita. Sekaligus menegaskan bahwa “tidak ada tempat untuk kekerasan dan kebencian di Australia.
Salah satu pelaku, Sajid Akram, tewas di tembak di tempat oleh petugas polisi yang merespons. Sementara itu, putranya, Naveed Akram, berada dalam kondisi kritis dan di rawat di rumah sakit. Pihak kepolisian juga melakukan penggeledahan di rumah kedua pelaku di kawasan Bonnyrigg, pinggiran barat Sydney. Sebagai bagian dari upaya mengungkap potensi hubungan pelaku dengan kelompok ekstremis atau adanya rencana serangan lanjutan.
Peringatan Anti-Semit yang Terwujud:Peristiwa ini juga memicu sorotan tajam terhadap meningkatnya sentimen anti-Semit. Rabbi Mendel Kastel, yang kehilangan saudara iparnya dalam serangan itu, menyebut tragedi ini sebagai “hasil dari amukan anti-Semit di jalan-jalan Australia selama dua tahun terakhir,” di mana seruan provokatif telah terwujud menjadi tindakan nyata yang mematikan. Pihak berwenang bahkan menemukan dua alat peledak rakitan aktif di lokasi kejadian dan di kendaraan pelaku yang berhasil di netralkan oleh tim penjinak bom, menunjukkan perencanaan serangan yang matang dan mematikan.
1. Status Pelaku dan Penahanan
Sajid Akram (Tewas di Lokasi)
- Status: Di lumpuhkan dan di pastikan tewas di lokasi kejadian setelah baku tembak dengan petugas Kepolisian New South Wales (NSW).
- Peran: Dii dentifikasi sebagai salah satu penembak utama.
- Penyelidikan Lanjut: Pihak berwenang fokus pada analisis forensik perangkat di gital miliknya, komunikasi, dan riwayat pergerakan untuk mencari hubungan dengan kelompok ekstremis domestik atau internasional.
Naveed Akram (Ditahan)
- Status: Di tahan setelah di lumpuhkan di lokasi dan di larikan ke rumah sakit karena luka kritis. Ia di jaga ketat oleh petugas kontra-terorisme dan akan segera di interogasi.
- Peran: Di identifikasi sebagai pelaku kedua. Laporan awal menyebutkan bahwa ia sempat bergulat dengan seorang warga sipil (Ahmed al Ahmed) sebelum di lumpuhkan polisi.
- Penyelidikan Lanjut: Naveed Akram menjadi kunci utama penyelidikan. Pihak berwenang berupaya mendapatkan informasi mengenai perencanaan serangan, potensi rekanan, dan sumber senjata yang di gunakan.
2. Bukti Kunci: Alat Peledak Rakitan (IED)
Salah satu temuan paling mengkhawatirkan adalah di temukannya alat peledak rakitan (Improvised Explosive Device/IED) di kendaraan yang digunakan oleh para pelaku.
- Tujuan Potensial: Penemuan ini mengindikasikan bahwa rencana serangan jauh lebih besar dan bertujuan untuk menimbulkan korban massal yang jauh lebih parah daripada sekadar penembakan. Terdapat spekulasi bahwa IED tersebut di rencanakan untuk di ledakkan:
- a. Setelah Penembakan: Untuk menargetkan petugas penyelamat pertama (first responders) dan tim medis.
- b. Di Lokasi Lain: Sebagai bagian dari serangan terkoordinasi kedua.
- Tindakan Kepolisian: IED tersebut berhasil di netralkan oleh tim penjinak bom, mengamankan area dari ancaman ledakan susulan.
3. Penegasan Motif Terorisme Anti-Semit
Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, dan Komisaris Polisi NSW telah secara resmi menyatakan insiden ini sebagai serangan teroris dengan motif utama anti-Semit.
- Target yang Jelas: Serangan tersebut terjadi saat perayaan Hanukkah sedang berlangsung, di mana lebih dari 1.000 anggota komunitas Yahudi berkumpul di lokasi tersebut. Hal ini memperkuat kesimpulan bahwa komunitas Yahudi adalah target yang di sengaja dan utama.
- Kaitan Ekstremisme: Penyelidikan sedang menguji adanya kaitan ideologi kebencian yang mendalam, terutama mengingat meningkatnya ketegangan dan insiden anti-Semit di Australia dalam beberapa waktu terakhir. Pihak berwenang menelusuri apakah kedua pelaku di pengaruhi oleh propaganda ekstremis secara online atau memiliki hubungan dengan jaringan ekstremis yang terorganisir.
Respon Darurat dan Kepahlawanan Warga Sipil
Di tengah kepanikan dan tembakan yang terus berdesing, respon cepat dari otoritas dan, yang paling mengharukan, aksi kepahlawanan warga sipil, patut di catat. Kepolisian dan tim medis segera membanjiri Pantai Bondi, mengamankan area, dan mengevakuasi korban. Dua petugas kepolisian sendiri turut menjadi korban luka dalam upaya mereka menetralkan situasi.
Tak hanya petugas, cerita-cerita tentang keberanian warga sipil mulai bermunculan. Seorang warga Bondi, Morgan Gabriel (27), yang awalnya mengira suara tembakan sebagai kembang api. Segera melihat orang-orang berlarian ketakutan dan tanpa ragu menampung sekitar enam hingga tujuh orang di tempat yang aman. Ada pula kisah tentang Ahmed al Ahmed, seorang pemilik toko buah berusia 43 tahun, yang di puji sebagai pahlawan karena di duga berusaha menghentikan pelaku, meskipun ia sendiri tertembak dua kali dan harus menjalani operasi. Kisah-kisah pengorbanan ini menjadi secercah harapan di tengah kegelapan tragedi.
Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI). Di Sydney juga segera mengeluarkan imbauan kepada WNI untuk meningkatkan kewaspadaan, meskipun tidak ada laporan WNI yang menjadi korban dalam insiden ini. Pemerintah Australia segera memastikan bahwa tidak ada insiden lain di Sydney yang terkait dengan penembakan tersebut, sekaligus mengakhiri ancaman langsung, namun trauma kolektif telah tercipta.
Duka Nasional dan Solidaritas Global
Tragedi Pantai Bondi mengirimkan gelombang kejutan dan duka cita mendalam, tidak hanya di Australia tetapi juga di panggung internasional. Perdana Menteri Anthony Albanese menyatakan duka cita terdalam, menyebut kerugian dan trauma yang dialami melampaui mimpi buruk siapa pun. “Ini adalah tanggung jawab kita untuk merangkul komunitas yang terluka itu dan memberi tahu mereka bahwa warga Australia biasa, masyarakat Australia pada umumnya, berdiri di pihak mereka,” tegasnya.
Pemimpin oposisi, Sussan Ley, juga menyuarakan kesedihan nasional, mengatakan, “Rakyat Australia sedang berduka cita yang mendalam malam ini. Dengan kekerasan penuh kebencian yang menyerang jantung komunitas ikonik Australia.”
Solidaritas datang dari seluruh penjuru dunia. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, termasuk pemimpin dunia yang menyampaikan belasungkawa dan solidaritas. Dengan Trump secara eksplisit menyebut insiden tersebut sebagai “serangan antisemit yang jelas.”
Sebagai langkah antisipasi dan dukungan, kota-kota besar global seperti Berlin, London, dan New York. Akan segera meningkatkan pengamanan di sekitar acara-acara Hanukkah yang sedang berlangsung. Ini menjadi pengingat pahit bahwa ancaman ekstremisme dan kebencian. Dalam berbagai bentuk Apapun dapat menyerang di mana saja, bahkan di tempat yang paling damai dan ikonik sekalipun. Komunitas Australia kini harus bersatu, bangkit, dan melewati cobaan berat ini sambil menuntut keadilan dan memastikan keamanan bagi semua warganya dari penembakan massal.