
Dalam satu dekade terakhir, istilah Thrifting telah bergeser dari sekadar aktivitas berbelanja karena kebutuhan ekonomi menjadi sebuah tren gaya hidup yang prestisius. Di kota-kota besar, dari London hingga Jakarta, anak muda kini dengan bangga memamerkan pakaian hasil buruan dari pasar barang bekas.
Dalam satu dekade terakhir, istilah Thrifting telah bergeser dari sekadar aktivitas berbelanja karena kebutuhan ekonomi menjadi sebuah tren gaya hidup yang prestisius. Di kota-kota besar, dari London hingga Jakarta, anak muda kini dengan bangga memamerkan pakaian hasil buruan dari pasar barang bekas. Namun, apa yang sebenarnya terjadi di balik tumpukan kain bermerek dan pakaian vintage ini? Thrifting adalah sebuah narasi kompleks yang mempertemukan keberlanjutan lingkungan, perlawanan terhadap konsumerisme, dan pencarian jati diri melalui fesyen.
Akar Sejarah: Dari Amal Menjadi Tren
Secara etimologis, kata thrift berasal dari bahasa Inggris Kuno yang berarti kesejahteraan atau keberhasilan, yang kemudian berkembang menjadi makna “hemat” atau “pandai mengelola uang.”
Aktivitas menjual barang bekas awalnya di mulai pada akhir abad ke-19 sebagai gerakan amal. Organisasi seperti Salvation Army dan Goodwill di Amerika Serikat mulai mengumpulkan donasi pakaian dari orang kaya untuk dijual kembali dengan harga sangat murah kepada kaum buruh dan imigran. Saat itu, memakai baju bekas masih di anggap sebagai tanda kemiskinan dan membawa stigma sosial yang rendah.
Perubahan paradigma terjadi pada era 1990-an. Subkultur grunge yang di populerkan oleh musisi seperti Kurt Cobain mulai merangkul pakaian lusuh dan kebesaran dari toko barang bekas sebagai bentuk perlawanan terhadap kemapanan. Thrifting kemudian bermutasi menjadi simbol keren dan orisinalitas.
Thrifting di Indonesia: Evolusi Pasar Loak ke “Preloved”
Di Indonesia, Sejarah barang bekas memiliki istilah lokal yang kuat, seperti “Cakar” (Cap Karung) di Makassar atau “Monza” (Monginsidi Plaza) di Medan. Selama puluhan tahun, pasar-pasar seperti Pasar Senen di Jakarta atau Pasar Gedebage di Bandung menjadi pusat bagi mereka yang ingin tampil bermerek dengan anggaran terbatas.
Awalnya, berburu baju bekas di tempat-tempat ini memerlukan kesabaran tinggi untuk mengaduk tumpukan karung yang panas dan berdebu. Namun, sejak tahun 2010-an, istilah thrifting mulai menggantikan sebutan “baju bekas”. Munculnya toko-toko thrift di Instagram dan platform seperti Carousell membuat pengalaman belanja menjadi lebih estetik dan kurasi produk menjadi lebih tajam. Kini, barang-barang tersebut di sebut sebagai barang “Preloved” atau “Vintage”, yang secara psikologis meningkatkan nilai jual dan gengsinya.
Motivasi di Balik Popularitas Thrifting
Ada tiga pilar utama yang mendorong mengapa thrifting begitu di gandrungi saat ini:
- Ekonomi (Keterjangkauan): Ini adalah alasan paling mendasar. Seseorang bisa mendapatkan jaket bermerek seperti The North Face atau Burberry dengan harga sepersepuluh dari harga toko resmi.
- Eksklusivitas (Anti-Mainstream): Di era fast fashion (seperti H&M atau Zara), risiko bertemu orang dengan pakaian yang sama sangatlah tinggi. Thrifting menawarkan barang-barang unik yang seringkali sudah tidak di produksi lagi, memberikan kepuasan bagi mereka yang ingin memiliki gaya personal yang berbeda.
- Kesadaran Lingkungan (Etika): Industri fesyen adalah polutan terbesar kedua di dunia. Thrifting di pandang sebagai bentuk circular economy (ekonomi sirkular) yang memperpanjang usia pakai sebuah pakaian dan mengurangi limbah tekstil di tempat pembuangan akhir.
Dampak Lingkungan: Melawan “Fast Fashion”
Setiap tahun, jutaan ton pakaian berakhir di tempat pembuangan sampah. Proses produksi satu kaus katun baru saja membutuhkan sekitar 2.700 liter air—jumlah yang cukup untuk di minum satu orang selama dua setengah tahun.
Dengan melakukan thrifting, konsumen secara langsung mengurangi permintaan terhadap produksi garmen baru yang seringkali melibatkan eksploitasi tenaga kerja di negara berkembang dan penggunaan bahan kimia berbahaya. Menggunakan kembali pakaian bekas adalah aksi nyata dalam mengurangi jejak karbon individu.
Sisi Gelap dan Kontroversi: Gentrifikasi Thrifting
Meskipun membawa misi positif, fenomena thrifting tidak lepas dari kritik, terutama mengenai Gentrifikasi Thrift Store. Dahulu, toko barang bekas di tujukan untuk orang berpenghasilan rendah. Namun, karena banyaknya kelas menengah yang memborong barang bagus untuk di jual kembali (reselling) dengan harga tinggi, harga barang di pasar loak ikut melonjak. Hal ini membuat masyarakat yang benar-benar membutuhkan pakaian murah justru kehilangan akses mereka.
Selain itu, Indonesia juga menghadapi masalah regulasi. Pemerintah melalui Peraturan Menteri Perdagangan sempat melarang impor pakaian bekas karena alasan kesehatan dan perlindungan industri tekstil dalam negeri. Debat antara menjaga ekonomi lokal dan memenuhi kebutuhan gaya hidup masyarakat kelas bawah hingga menengah masih terus berlanjut hingga kini.
Tips Thrifting yang Cerdas dan Aman
Bagi Anda yang ingin mencoba atau mendalami hobi ini, ada beberapa langkah penting yang perlu di perhatikan:
- Cek Detail dan Kondisi: Periksa kerah, ketiak, dan jahitan. Pastikan tidak ada noda permanen atau lubang kecil.
- Kenali Bahan: Barang vintage seringkali memiliki bahan yang lebih tebal dan awet di bandingkan baju modern.
- Sterilisasi: Ini sangat krusial. Rebus pakaian bekas dengan air panas atau cuci menggunakan di sinfektan khusus sebelum di pakai untuk menghilangkan bakteri dan tungau.
- Kurangi Resell Berlebihan: Belilah sesuai kebutuhan agar harga pasar tetap stabil bagi mereka yang benar-benar membutuhkan.
Panduan Sterilisasi Baju Thrift (Deep Cleaning)
1. Proses Pemilahan (Sorting)
Jangan langsung Mencampur baju thrift dengan pakaian lama Anda di keranjang cucian.
- Pisahkan berdasarkan warna (putih, terang, gelap) untuk menghindari luntur.
- Pisahkan berdasarkan bahan (katun, denim, wol, atau sutra). Bahan sensitif seperti wol tidak boleh di rebus.
2. Perendaman dengan Air Panas (Opsi Utama)
Air panas adalah cara paling efektif untuk membunuh kuman dan tungau yang menempel pada serat kain.
- Suhu: Gunakan air panas dengan suhu sekitar 60°C – 80°C.
- Caranya: Rendam pakaian dalam ember selama 15–30 menit.
- Catatan Penting: Hindari merendam bahan sintetis, wol, atau nilon dengan air panas karena bisa merusak serat atau membuat baju menciut. Untuk bahan sensitif, gunakan metode di sinfektan kimia di bawah ini.
3. Penggunaan Di sinfektan atau Cairan Antiseptik
Jika Anda khawatir air panas akan merusak kain, gunakan cairan antiseptik khusus pakaian (seperti Dettol cair).
- Campurkan satu tutup botol antiseptik ke dalam air rendaman.
- Sebagai alternatif alami, Anda bisa menggunakan Cuka Putih. Cuka membantu membunuh bakteri dan menghilangkan bau apek yang membandel pada baju bekas.
4. Pencucian Utama dengan Deterjen Strong
- Gunakan deterjen cair yang memiliki daya bersih kuat.
- Jika menggunakan mesin cuci, pilih mode Heavy Duty atau Hygiene jika tersedia.
- Tambahkan pelembut pakaian (softener) yang wangi untuk menghilangkan sisa aroma “gudang” yang khas pada baju impor.
5. Pengeringan di Bawah Sinar Matahari
Sinar matahari mengandung sinar UV yang berfungsi sebagai di sinfektan alami tambahan.
- Jemur pakaian dengan posisi terbalik (bagian dalam di luar) agar warna asli tidak cepat pudar akibat panas matahari.
- Pastikan baju benar-benar kering 100%. Jangan menyetrika baju yang masih lembap karena akan memicu pertumbuhan jamur baru.
6. Menyetrika dengan Suhu Tinggi/Uap (Steaming)
- Gunakan setrika uap (steamer) jika punya, karena uap panas dapat menembus serat kain dan membunuh sisa-sisa mikroba.
- Jika menggunakan setrika biasa, pastikan suhu sesuai dengan label instruksi pada baju Thrifting.